PERTUMBUHAN GIGI

PERTUMBUHAN GIGI

Oktober 20, 2008

Sumber : http://www.babycenter.com/refcap/baby/babydevelopment/6574.html
translated by Sylvia R.

Pertumbuhan gigi bukan merupakan salah satu tonggak perkembangan yang dicapai
seorang bayi sekali dan sekaligus. Peralihan dari ringisan gusi hingga mulut
yang sepenuhnya ditumbuhi gigi merupakan masa yang harus dilalui anak anda
dalam 3 tahun pertama kehidupannya.

Perjalanan ini dimulai sejak dalam kandungan. Saat anda hamil, dalam tubuh
bayi anda telah berkembang pucuk gigi, dasar dari gigi bayi atau gigi susunya.
Pucuk ini mulai memecahkan permukaan gusi pada suatu waktu di antara usia 3
hingga 12 bulan. Anda bahkan dapat melihat gigi pertamanya – tanda yang
memperjalas bahwa bayi anda sedang bertumbuh – sekitar usia 6 bulan, saat yang

umumnya bagi seorang bayi sebagai awal perkenalannya dengan makanan padat.
Saat ia berusia 3 tahun, ia akan memiliki gigi lengkap sehingga ia dapat
menggsoknya sendiri (dengan sedikit bantuan anda) – suatu tahap dasar dari
ketrampilan menjaga dan memelihara diri sendiri.

KAPAN GIGI DAPAT TUMBUH?

Satu dari 2000 bayi sebenarnya lahir dengan sebuah atau 2 buah gigi dalam
mulutnya! Tetapi mayoritas pertumbuhan tercepat untuk gigi pertama pada
sekitar 6-7 bulan.
Paling cepat terjadi di usia 3 bulan dan paling lama saat
seorang anak hampir berusia 1 tahun. Gigi terakhir (yang terletak dibagian
belakang atas dan bawah mulut) umumnya tumbuh saat tahun kedua. Di usia 3
tahun, anak anda seharusnya telah memiliki 20 gigi susu lengkap.

BAGAIMANA GIGI TUMBUH?

Bagi para bayi dan orang tua, munculnya gigi pertama tidaklah terlalu
menyenangkan, dan dapat menjadi proses yang lama dan berlarut-larut. Gejala
awal – termasuk banyaknya air liur yang menetes dan rasa nyeri yang lumayan –
kadang telah dialami 1 atau 2 bulan sebelum gigi sebenarnya tumbuh. Anda
mungkin akan terbangun setiap malam, mencoba menenangkan anak anda yang sedang
menanti giginya muncul di permukaan gusi. Untuk mengurangi penderitaannya,
bayi anda mungkin mulai menggigit, tetapi tidak dengan marah atau mengamuk.
Beri dia sesuatu untuk digigit atau gosok gusinya lembut dengan jari anda untuk
mengurangi rasa sakitnya.

Gusi juga dapat menjadi bengkak saat anak-anak mulai tumbuh gigi, yang
memungkinkan pipi anak anda tampak agak lebih penuh. Walau beberapa orang tua
menyatakan bayi mereka menjadi demam atau mengalami diare saat gigi sudah mulai
akan tumbuh, sebagian besar ahli setuju bahwa tumbuh gigi tidak menyebabkan
kesakitan. Jika anak anda menunjukkan gejala demam, pilek ringan atau masalah
dalam perutnya, periksakanlah dia pada dokter anak.

Untuk beberapa anak yang beruntung, peristiwa tumbuh gigi tidak tidak terlalu
menyakitkan. Satu saat bayi anda sering meringis sambil memamerkan gusi
ompongnya, di saat lain, tiba-tiba telah ada benda putih yang muncul dari
permukaan gusinya.

Gigi muncul satu demi satu. Pertama, gigi di bagian bawah depan, kemudian 2
gigi seri di atas, kemudian gigi-geligi sepanjang sisi samping dan belakang
mulut. Pertumbuhan gigi termasuk yang diturunkan secara genetis, sehingga jika
anda mengalami tumbuh gigi lebih awal, begitu pula kemungkinan yang terjadi
dengan anak anda kelak.

APA BERIKUTNYA?

Gigi susu tidak akan tanggal hingga gigi tetap anak anda siap untuk tumbuh,
umumnya di usia sekitar 6 tahun.

PERAN ANDA

Anda tidak dapat melakukan apa pun untuk membuat gigi pertama anak anda muncul,
tetapi anda dapat membantu menenangkan bayi anda jika ia mulai merasa sakit
ketika proses tumbuh gigi sedang dimulai. Pertama, beri anak anda sesuatu
untuk dikunyah, seperti mainan gigit yang disimpan di dalam kulkas. Sepotong
roti beku juga dapat mengurangi rasa sakit pada gusi anak anda yang sedang
bengkak (tetapi pastikan bayi anda tidak dapt menggigit dan menelannya,
sehingga dapat membuatnya tersedak). Ia dapat juga memakan makanan dingin
semacam blender apel atau yoghurt dari kulkas untuk mengurangi rasa nyerinya.
Beberapa dokter merekomendasikan untuk memberikan bayi yang sedang tumbuh gigi
obat penawar sakit khusus anak-anak dengan dosis kecil.

Setelah gigi pertama muncul, terserah anda untuk menjaganya tetap bersih.
Untuk tahun pertama, anda tidak terlalu perlu menggosok giginya, tetapi cobalah
untuk membersihkannya minimal sekali sehari, mungkin dengan menjadikannya
bagian kebiasaan rutin sebelum tidur malamnya. Anak anda mungkin belum mau
membuka mulutnya untuk disikat giginya, jadi gunakanlah kain basah yang bersih
untuk menggosok gusi dan giginya.. Anda juga seharusnya tidak menidurkan anak
anda dengan sebuah botol di mulutnya.
Susu formula dan ASI dapat menggenang
dalam mulut bayi anda dan menimbulkan kondisi yang disebut ‘baby-bottle tooth
decay’.

Sekitar usia 18 bulan, anak anda mungkin telah siap belajar menggosok giginya.
Anda harus membantunya dan memeriksa apakah cara membersihkan giginya efektif
untuk beberapa tahun, ini adalah kebiasaan baik yang patut diajarkan pada anak
anda. Tunjukkan padanya bagaimana menggerakkan sikat gigi di sekitar giginya.
Gunakan sikat lembut dan sedikit pasta gigi. Anda tidak harus menggosoknya
dengan arah tertentu, hanya usahakanlah semua remah makanan ke luar dan
permukaan gigi dan gusi bersih.

Jika anak anda tidak menyukai rasa pasta gigi, cobalah merek lainnya atau
jangan gunakan pasta gigi sama sekali. Anda tidak mesti menggunakan pasta gigi
kecuali makanan anak anda sehari-hari mengandung banyak gula – yang seharusnya
anda hindari pula. Jika ia tetap menyukai makanan manis, pastikan ia untuk
menggosok giginya segera setelah ia makan, atau dorong ia untuk menyudahi
makanannya dengan makanan jenis lain seperti sepotong keju. Sekitar usia 3
tahun, bawalah ke dokter gigi sehingga anak anda terbiasa dengan pemeriksaan
rutin giginya.

KAPAN HARUS MERASA KUATIR?

Bayi prematur akan mengalami pertumbuhan gigi agak terlambat dibandingkan bayi
yang lahir penuh waktu. Jika hingga akhir usia 1 tahun anda masih tidak
melihat tanda-tanda gigi akan muncul, bicarakan hal tsb. kepada dokter anda
saat cek-up rutin anak Anda. Jika anak anda mengalami semua gejala tumbuh gigi
– tetesan air liur yang banyak, gusi bengkak – tetapi juga mengalami rasa sakit
yang tak tertahankan, kunjungi dokter anda. Peristiwa tumbuh gigi seharusnya
bukan merupakan siksaan yang bukan main sakitnya bagi seorang bayi.

Toilet Training

Pedoman Untuk Orang Tua

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial.

Kapan anak siap untuk toilet training?

Tidak ada patokan usia kapan TT harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan fisik dan mental anak. anak berusia di bawah 12 bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6 bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.
Anak anda seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Jika anak bertahan kuat, sebaiknya ditunggu beberapa saat.
Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan.
Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.

Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:

  • Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang.
  • BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi
  • Ekspresi wajah, postur menjadi tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.

Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang-kadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:

  • Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat.
  • Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi.
  • Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.

Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.

  • Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
  • Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian.
  • Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti.
  • Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot.
  • Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ?

Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine, dan BAB. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.
Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya.
Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan.
Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai.
Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadang-kadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya.
Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya.
Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet.
Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda.
Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT.
Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK.
Keberhasilan TT tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama.
Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih.
Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK.
Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet.
Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.
Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT.

PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 6-12 TAHUN

PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 6-12 TAHUN
Amati dengan cermat agar tahu persis, kapan harus khawatir dan kapan perlu menstimulasi anak secara intens.
Setiap tahap perkembangan, baik motorik kasar maupun halus, jelas dr. Rini Sekartini, SpA, punya kurun waktu tertentu. Meski tidak bersamaan waktu munculnya, bisa saja saling tumpang tindih (overlapping), berdekatan, dan berkelanjutan. Contohnya, bayi usia 5-7 bulan harus sudah bisa duduk. “Namun di kurun waktu yang sama atau paling berselisih hanya sebulan, dia juga sudah bisa menunjukkan perkembangan berdiri,” kata dokter anak dari Subbagian Anak FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Yang harus diwaspadai adalah bila dalam kurun waktu itu tonggak-tonggak perkembangan belum juga muncul. Di kotak bawah ini, berikut perkembangan motorik kasar dan halus bayi usia 6¬-12 bulan:
Motorik Kasar
* DUDUK TANPA PEGANGAN (5 bulan 1 minggu – 7 bulan)
Di usia ini bayi sudah mulai bisa duduk tanpa pegangan.
* BERDIRI DENGAN PEGANGAN (6,5 bulan – 8 bulan 3 minggu)
Setelah bisa duduk sendiri, orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh anak di boks atau di lantai yang beralas. Kemudian letakkan kursi/meja kokoh sebagai pegangan. Sedangkan bila di boks kayu, biasanya anak akan mencoba berdiri sambil berpegangan pada tiang-tiang boks.
* BANGKIT UNTUK BERDIRI (7,5 bulan – 10 bulan)
Dari posisi duduk dan tangan memegang pegangan, bayi berusaha mencoba bangkit untuk berdiri. Sebaiknya meja/kursi sebagai tempat pegangan harus kokoh, hingga anak tidak mudah jatuh.
Selagi “dilepas” di lantai, sebaiknya jangan menggunakan kaos kaki karena licin dan bisa membuatnya terpeleset lalu jatuh. Tentu saja pengawasan orang tua sangatdiperlukan.
* BANGKIT LALU DUDUK (7 bulan 1 minggu – 10 bulan 1 minggu)
Semula bayi dalam posisi telungkup atau telentang. Kemudian ia akan bangkit, mencoba merangkak dan mengangkat lengannya agar bisa tegak. Ia juga mencoba mengangkat pantatnya, kemudian duduk. Orang tua bisa membantunya dengan menarik atau memegang kedua tangannya. Agar bayi terangsang melakukan kegiatan ini, sering-seringlah menaruhnya di tempat tidur atau kasur di lantai.
* BERDIRI 2 DETIK (9 bulan 1 minggu – 12 bulan)
Bayi betul-betul sudah bisa lepas dari pegangan, bahkan orang tua bisa menghitung dia berdiri dalam 2 detik. Setelah itu biasanya jatuh lagi karena keseimbangannya belum begitu baik. Namun jatuhnya tidak tergeletak dengan kepala terantuk ke lantai, melainkan dengan posisi terduduk. Karena itu, agar jatuhnya enak, sebaiknya lantai diberi alas.
* BERDIRI SENDIRI (10 bulan 1 minggu – 13 bulan 3 minggu)
Anak sudah tidak berpegangan lagi ketika berdiri. Kini ia sudah memiliki kestabilan, hingga tidak terjatuh.
* MEMBUNGKUK KEMUDIAN BERDIRI (11 bulan – 14 bulan)
Anak sudah bisa berdiri sekaligus dapat membungkuk menuju posisi jongkok, kemudian berdiri tegak lagi. Orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh mainan atau barang yang bisa menarik perhatiannya di lantai.
* BERJALAN DENGAN BAIK (11 bulan – 15 bulan)
Sebelum bisa berjalan, biasanya orang tua mulai menitahnya. Bisa dengan memegangi kedua tangannya atau kalau merasa khawatir bisa pegangi bagian ketiaknya. Lama waktu menitah tak ada batasan. Di usia belajar berjalan ini (sekitar 13 atau 14 bulan), anak masih takut-takut dan kadang jatuh.
Untuk menstimulasi anak agar mau belajar jalan, harus hati-hati. Jangan sampai anak trauma dan akhirnya malah takut berjalan. Kalau sampai terjatuh dan membuat anak merasa sakit sekali, umumnya membuat anak jadi trauma. Sebaiknya, saat anak sedang belajar jalan, orang tua harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Jangan sampai ada benda-benda kecil di lantai yang bisa terinjak dan membuatnya kesakitan atau malah terpeleset dan jatuh.
Selain itu, tidak dianjurkan menggunakan baby walker karena tidak melatih bayi melangkah atau mengangkat kakinya, hingga kemampuannya melangkah kurang terasah. Soalnya, baby walker hanyalah menggeser anak berpindah tempat dan bukan melangkah. Jauh lebih baik melatihnya dengan menitah anak.
Agar anak bisa cepat dilepas dari titah, harus ada dukungan dari orang tua. Usahakan ada dua orang yang menstimulasinya belajar jalan. Seorang memegangnya dan seorang lain berjaga di depannya dengan jarak yang disesuaikan. Artinya, bila anak baru mampu berjalan selangkah dua langkah, si penjaga ini berjarak selangkah dua langkah pula. Bila sudah mulai agak lancar, jarak tersebut bisa semakin dijauhkan. Dengan demikian anak memiliki rasa percaya diri. Ia tahu persis, kalaupun jatuh, ada orang yang berjaga di depannya dan siap melindunginya.
* BERJALAN MUNDUR (12 bulan 1 minggu – 16 bulan)
Setelah kemampuan jalannya membaik, dengan sendirinya anak akan mulai belajar mundur. Ini merupakan salah satu bentuk eksplorasinya. Kelak ia pun akan belajar berjalan ke samping kiri-kanan, memutar, lalu belajar berlari.

Dedeh

Aneka Perkembangan Motorik Halus

Aneka Perkembangan Motorik Halus
Berikut tahapan beberapa perkembangan motorik halus seperti dijelaskan Rini.
* Mengikuti Objek ke Garis Tengah
– Dilakukan kira-kira ketika usia bayi 1 minggu dan sudah harus bisa sampai usianya 1 bulan 2 minggu.
– Objeknya bisa berupa sinar/cahaya, suara dan benda. Biasanya objek yang menarik perhatian karena memiliki warna-warna “menyala” seperti merah, kuning, hijau.
– Cara stimulasi, gerakkan objek dengan warna terang tadi dari pinggir mata sampai kira-kira ke arah garis tengah. Diharapkan bayi akan mengikuti objek tersebut sampai ke garis tengah.
* Mengikuti Objek Lewat Garis Tengah (usia 3 minggu – 2 bulan 3 minggu)
Cara stimulasi, arahkan benda dari arah pinggir sampai lewat garis tengah. Diharapkan mata bayi akan mengikuti gerakan benda tersebut.
* Menggenggam (1 bulan 3 minggu – 3 bulan 1 minggu)
Cara stimulasi, beri mainan yang mengeluarkan bunyi dan memiliki pegangan (kerincingan). Biarkan ia menggenggamnya.
* Kedua Tangan Bersentuhan (1,5 bulan – 3 bulan)
– Umumnya bayi suka sekali memainkan/mengamati tangannya. Di usia ini kedua tangannya mulai saling menyentuh atau malah menyatu.
– Cara stimulasi, gantungkan benda atau mainan di atas tempat tidurnya, agar bayi berusaha meraihnya. Sebaiknya, objeknya jangan berputar karena koordinasi matanya belum baik. Benda berputar juga membuat mata bayi tidak terfokus pada satu objek.
* Mengikuti Objek 180 Derajat (1 bulan 3 minggu – sekitar 4 bulan)
Bayi mengikuti objek yang digerakkan oleh orang tuanya dari pinggir yang satu sampai ke ujung pinggir mata lainnya.
* Meraih Benda (3 bulan 3 minggu – 5 bulan)
Orang tua dapat menaruh obyek atau mainan di dekatnya, biarkan bayi mencoba meraihnya. Prinsipnya, di sini belum ada mobilisasi/perpindahan benda. Jadi, hanya gerakan tangan yang meraih saja.
* Mencari Benda yang Dijatuhkan (4 bulan 1 minggu – nyaris 6 bulan)
– Stimulasi diberikan untuk menilai koordinasi gerakan benda yang berpindah dan apakah bayi dapat melihat sekaligus mengikuti benda yang bergerak tadi.
– Cara stimulasi, buat gumpalan benang warna merah (bisa dari benang wol) menjadi semacam pom-pom dengan diameter sekitar 4-5 cm. Taruh di atas kepala anak lalu gelindingkan. Ia akan berusaha melihat gumpalan benang yang berada di atas kepalanya itu. Begitu juga ketika benangnya dijatuhkan, dia akan mencarinya.
* Menggaruk Manik-manik (4 bulan 3 minggu – 6 bulan)
– Jangan pilih manik-manik yang ukurannya kelewat kecil, karena bahaya bila tertelan. Bukan pula makanan kecil yang tergolong keras seperti kacang, tapi gunakan kismis. Dudukkan bayi dan taruh kismis di depannya. Ia akan mengambilnya menggunakan kelima jarinya.
– Kemampuan menggaruk ini nantinya akan berkembang menjadi kemampuan menjumput di usia 9 bulanan.
* Memindahkan Kubus ke Tangan Lain (5 bulan 1 minggu – sekitar 8 bulan)
Cara stimulasi, beri sebuah kubus. Dia akan memegang kubus tersebut dengan sebelah tangannya kemudian memindahkannya ke tangan lain. Pilih kubus yang terbuat dari kain.
* Mengambil 2 Kubus (5 bulan 3 minggu – 9 bulan 3 minggu)
Cara stimulasi, taruh beberapa kubus di hadapannya. Di range usia ini ia sudah mulai bisa mengambil lebih dari satu kubus dengan menggunakan kedua tangannya.

Perkembangan Motorik Halus

Perkembangan Motorik Halus
Untuk mendeteksi gangguan/penyimpangan perkembangan, menurut Rini, bisa dilakukan dengan alat skrining perkembangan Denver II. Di situ akan terlihat, gerakan apa saja yang sudah dicapai untuk range usia tertentu. Berikut garis besar skrining perkembangan motorik kasar menurut Denver II:
* Gerakan Seimbang (sejak lahir hingga 0,5 bulan)
– Gerakan seimbang bisa dilihat dari anggota geraknya, yakni tangan dan kaki. Saat kaget, keempat anggota geraknya yang semula dalam posisi menekuk seperti katak, mengalami ekstensi menjadi lurus secara bersamaan.
– Stimulasi yang disarankan, tarik selimutnya saat anak sedang tidur, baik dalam posisi tengkurap atau telentang. Jika salah satu dari keempat anggota geraknya tak simetris, semisal kaki kanannya tampak lemas/tak terangkat, perlu dicermati sebagai tanda mencurigakan.
* Mengangkat Kepala (20 hari – belum genap sebulan).
– Dalam range waktu antara beberapa hari sejak lahir hingga usia 2,5 bulan, anak sudah bisa mengangkat kepalanya sekitar 45 derajat.
– Selanjutnya, sekitar 1 bulan 10 hari-3,5 bulan, sudah bisa mengangkat kepala sejauh 90 derajat.
– Cara stimulasi, posisikan anak tengkurap/telungkup. Jika tak ada kelainan, secara spontan bayi akan berusaha mengangkat kepalanya sendiri. Lakukan di bawah pengawasan orang tua.
* Duduk dengan Kepala Tegak (1,5 bulan – 3 bulan 3 minggu)
Cara stimulasi, pangku dan sandarkan anak pada tubuhnya hingga kepalanya ikut tegak. Orang tua patut curiga jika kepala bayi tampak lemas, terjatuh, atau menunduk.
* Menumpu Badan pada Kaki (1,2 bulan – 4 bulan 3 minggu)
Stimulasi yang disarankan, posisikan tengkurap. Perhatikan, tubuh bayi akan terlihat bertumpu pada kakinya.
* Dada Terangkat Bertumpu pada Lengan (2,5 bulan – mendekati 5 bulan)
– Cara stimulasi, balik/telungkupkan tubuhnya. Perhatikan kemampuannya mengangkat lengan dan dada, hingga posisi lengannya tegak.
– Untuk bisa bertumpu pada tangannya, ulurkan mainan yang bersuara atau coba panggil namanya, hingga dia mencoba melihat ke arah suara dan mengangkat kepalanya. Kadang ia terjatuh, dalam arti menundukkan kepalanya.
* Tengkurap Sendiri (1 bulan 3 minggu – 5,5 bulan)
Cara stimulasi,jangan sering menggendong bayi atau menaruhnya di ayunan karena anak tak akan punya kesempatan belajar tengkurap. Sebaiknya taruh anak di tempat tidur dengan posisi telentang. Kemudian sedikit demi sedikit bantu ia membalikkan posisi tubuhnya.
* Ditarik untuk Duduk Kepala Tegak (2 bulan 3 minggu – 6 bulan)
Cara stimulasi, tidurkan anak dengan posisi telentang, lalu tarik perlahan kedua
lengannya. Perhatikan, apakah kepalanya sudah dapat mengikuti tubuh untuk tegak atau tidak. Jika kepala tetap lunglai, besar kemungkinan ada kelainan yang umumnya terjadi di susunan saraf pusat.
* Duduk Tanpa Pegangan (5 bulan 1 minggu – 7 bulan)
Bila sesudah ditarik kedua tangannya kepala bayi bisa tegak, coba lepaskan kedua tangannya secara perlahan agar dia bisa duduk sendiri.

Dedeh

PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 0-6 BULAN

PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 0-6 BULAN
Motorik kasar dan halus bayi memiliki “pola” tersendiri. Bila tak sesuai dengan “pola” tersebut berarti ada keterlambatan.
Sejak lahir, jelas dr. Rini Sekartini,Sp.A., bayi sebetulnya sudah membawa 4 aspek perkembangan. Yakni gross motor atau gerakan/motorik kasar, fine motor atau gerakan/motorik halus, aspek komunikasi-bicara, serta aspek sosial dan kemandirian. Bahkan begitu bayi lahir, aspek motoriknya sudah mulai berkembang.
Pada prinsipnya, tutur spesialis anak dari Subbagian Tumbuh Kembang FKUI-RSCM, Jakarta, motorik kasar merupakan gerakan otot-otot besar. Yakni gerakan yang dihasilkan otot-otot besar seperti otot tungkai dan lengan. Misalnya gerakan menendang, menjejak, meraih dan melempar. Sedangkan motorik halus merupakan koordinasi antara jari-jemari, telapak tangan dan kaki, serta mata.
Masing-masing tahap perkembangan motorik kasar dan halus memiliki kurun waktu/milestone perkembangan. Kurun waktunya pun berbeda antara tahap perkembangan yang satu dengan lainnya. Mengangkat kepala sejauh 45 derajat, contohnya, bisa dilakukan sampai bayi berusia 2,5 bulan. “Kalau dia belum bisa juga melakukannya, orang tua harus curiga. Sebaiknya diperiksakan ke dokter untuk mengetahui ada-tidaknya keterlambatan perkembangan.”
Yang tak kalah penting, pesan Rini, lakukan stimulasi motorik kasar dan halus secara sekaligus. Misalnya, sambil melatih bayi tengkurap, taruh mainan di depannya hingga ia sekaligus belajar meraih benda di sekitarnya. Jangan lupakan pula aspek bahasa, sosial, dan kemandiriannya. “Lakukan stimulasi sesering mungkin. Toh, kita bisa menerapkannya sambil menyusui, memandikan, atau saat beraktivitas lainnya.”

Dedeh Kurniasih.Foto:Ries/nakita

Anakku Faza…

Assalamu’alaikum Anak Ummi sayang…abisini

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!